7 Kata Kunci Membangun StartUp Digital

white-board-593349_1920

PRESIDEN Joko Widodo kaget luar biasa. Saat berkunjung ke Silicon Valley Februari lalu, dia merasa Indonesia tertinggal jauh bila dibandingkan kemajuan di Silicon Valey, Amerika Serikat. Industri digital semakin cepat, katanya. “Itu sebabnya, ketika pulang ke Indonesia, kita mesti langsung bergerak.”

Roadmap dibuat, strategi disusun. Indonesia punya misi besar: menjadi “The Digital Energy of Asia.” Satu cara untuk mewujudkannya, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi bersama Kibar serta Badan Ekonomi Kreatif meluncurkan Gerakan Nasional 1.000 startup digital atau perusahaan rintisan.

Lewat Gerakan tersebut diharapkan lahir 1.000 startup karya anak-anak bangsa pada 2020 dengan total valuasi yang mencapai US$10 miliar atau sekitar Rp133 triliun. Di tahun pertama, pada 2016 ini, gerakan nasional 1.000 startup berfokus di 10 kota yang sudah memiliki kesiapan ekosistem dari segi infrastruktur digital serta komunitas penggeraknya.

Masalahnya 1.000 startup baru tentu bukan angka yang kecil, sedikit ambisius. Tapi bila melihat pertumbuhan startup digital tentu bukan misi mustahil. Lihat saja Gojek yang kini menyandang status unicorn, lantas ada tokopedia, halodoc, bukalapak, ada tarrasmart.com, Hijup, iGrow, bahaso.com, kitabisa.com dan masih banyak lagi.

Masih kurang? Jelas. Sebab pasar digital Indonesia terus tumbuh. Bahkan menurut Managing Director Google Indonesia, Tony Keusgen pertumbuhan ini secara dramatis akan mengubah keadaan ekonomi 10 tahun ke depan. Peluangnya sangat besar USD81 miliar atau Rp1.069 triliun, jumlah tersebut bisa membeli caramel macchiato di sebuah kedai kopi lebih dari 17 miliar cangkir ukuran paling besar.

Nah, saatnya kita bergerak. Mewujudkan mimpi dan meraih pasar di negeri sendiri. Yang pertama, ya mulai. Saya ingin berbagi sedikit tentang membangun startup, paling tidak ada 7 kata kunci.

1. Masalah

Ini adalah kata kunci utama. Identifikasi masalah, temukan masalah. Kesulitan mencari masalah? Kepala Barekraf Triawan Munaf saat membukan Ignition Tahap 2 Gerakan Nasional 1.000 startup di UI menberikan tips: banyak-banyak mengobrol dengan berbagai kalangan dan di mana saja. Ada budayawan, koki, atlet, karyawan kantoran, nelayan, petani, pustawakan, wartawan, dokter, bankir, pelajar, guru, tukang bunga, peternak ikan, pengusaha warteg, eksportir-importir, siapa saja. Berbagi cerita tentang masalah yang mereka temukan sehari-hari.

2. Solusi

Setelah menemukan masalah, identifikasi penyebabnya. Kemudian, bagaimana memecahkannya. Apa solusinya. Gojek lahir karena Jakarta macet dan CEO-nya Nadiem Makarim punya ojek langganan. Dia pun melihat solusi bagaimana menjadi jembatan antara pelanggan yang butuh cepat bergerak di Jakarta dengan tukang ojek. Nadiem merintis Gojek sejak lebih dari lima tahun lalu dengan call center sampai akhirnya menjadi startup dengan status unicorn.

Cerita lain datang dari CEO Brodo, dia menemukan masalah yang sederhana, “Saya kesulitan mencari sepatu ukuran 46, kalau ada harganya mahal,” kata Yukka Harlanda yang lulusan ITB. Akhirnya dia mencoba membuat sepatu sendiri, berhasil dan akhirnya merintis bisnis sepatu, dan lebih sukses lagi.

3. Riset

Tahap berikutnya riset. Riset modalnya, pasarnya, konsumen, riset infrastrukturnya. Founder iGrow  Andreas Senjaya pernah punya pengalaman, sebelum membuat iGrow dia membuat platform ride sharing seperti uber dan gojek pada 2 tahun lalu, tanpa riset. Lansung membuat dengan modal cukup besar. Dan gagal. Jadi riset atau teliti secara menyeluruh dari pasar dan platform.

4. Eksekusi

Setelah riset matang, ya eksekusi. Tanpa bla.. bla.. bla, atau banyak cakap, lakukan saja. Segera. Karena mimpi tidak akan terwujud bila kita tidur saja, kita harus bangun dan mewujudkannya. Mulai dari yang sederhana, temukan mitra yang pas dan kerjakan.

5. Validasi

Setelah jadi, produk digital yang Anda kembangkan, berikutnya validasi atau tahap pengujian. Uji produknya, apakah itu platform atau situs yang Anda buat. Termasuk parameter yang Anda tentukan sendiri, fiturnya bekerja dengan baik atau tidak, lalu data, data, data. Faktor data adalah yang utama.

6. Pivot

Istilah yang menarik. Saya mengenalnya waktu sekolah, belajar teori basket. Pivot adalah gerakan berputar dengan satu kaki tetap bertumpu. Nah, dalam dunia startup istilah ini lazim, bagaimana setelah melalui tahapan validasi, ternyata produk kita tidak pas, ya putar saja.

CEO Jojonomic Indrasto Budisantoso memberikan pengalamannya melakukan pivot, Sebelumnya Jojonomic mengeluarkan aplikasi keuangan pribadi. “Yang mengunduh banyak, tapi tidak ada yang mengkonversi menjadi pelanggan berbayar,” katanya.
Secara bersamaan dia juga menyiapkan platform reimbursment untuk perusahaan yang ternyata lebih diterima dan tumbuh. Akhirnya dalam 4-5 minggu perusahaan rintisannya melakukan pivot. Dari yang tujuan awalanya menawarkan aplikasi keuangan personal menjadi keuangan perusahaan.

7. Fokus

Kata kunci terakhir: Fokus. Klise terdengarnya, tapi semua pendiri perusahaan rintisan hampir merasakan dan melakukannya. CEO Female Daily Hanifa Ambadar berbagi, awalnya dia memulai dengan blog kecantikan dan segala hal tentang perempuan lalu berkembang menjadi portal, tumbuh sampai ada lima situs. Setelah belajar di Silicon Valley dia mendapat masukan, temukan kekuatanmu dan fokus.

Setelah melalui evaluasi dan riset, dia menemukan kekuatan Female Daily adalah kecantikan. Dia pun menutup banyak situs dan fokus. “Dan benar, pertumbuhan menjadi cepat, skalanya menjadi besar.” Sebab, kata dia, engineer yang dulu mengurus banyak situs sekarang fokus dan hasilnya sangat nyata.
Last but not least, segera bangun dan wujudkan mimpi, bila Anda ingin membuat sesuatu di era disruptive ini. Saya awalnya juga hanya bermimpi, tapi sekarang saya menjadi bagian dari gerakan ini. Mulai berkarya, jangan takut soal modal apalagi gagal. Saya optimistis Indonesia akan menjadi sumber energi digital di Asia, bukan hanya pasar yang seksi untuk perusahaan global.

Advertisements

Menikmati Pagi di Lodhi Garden

Kabut tipis menyelimuti New Delhi. Udara dingin berhembus perlahan. Pada awal hingga pertengahan Februari lalu suhu musim dingin di ibu kota India ini tak menentu. Di pagi hari kadang suhu berkisar 12 derajat celcius, tapi tak jarang mencapai 9 derajat, pada siang hari mendadak naik menjadi 20-an  derajat Celcius, sore dan malam bisa langsung turun menjadi 10 derajat celcius.

Namun, dingin yang menggigit pagi itu, sekitar 12 derajat, tak menghalangi saya untuk menikmati pagi di Lodhi Garden, yang konon salah satu taman terindah di New Delhi. “Pokoknya keren banget, bisa ngeliat banyak burung dan tomb (makam berbentuk kuil),” ujar Riyan, salah seorang teman yang telah menetap 1,5 tahun di New Delhi.

Seusai mengisi perut dengan telur dadar plus sosis ayam, tepat jam setengah sembilan, saya berangkat dengan mobil dari hotel tempat saya menginap di wilayah Chanakyapuri, kawasan kedutaan asing di New Delhi.

Tak sampai 10 menit, Toyota Qualis, nama bagi Toyota Kijang di India, yang saya tumpangi masuk ke sebuah tempat parkir yang rimbun oleh pepohonan. “Kita sudah sampai pak,” ujar Nanak Chand, sopir yang mengantar saya.

Saya segera keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk, saya mulai merapatkan jaket yang saya pakai. Udara dingin membuat pipi saya pagi itu semriwing. Tanpa perlu membeli tiket, saya melewati sebuah pintu kecil dari besi yang berputar persis seperti pintu masuk supermarket.

Tak jauh dari pintu masuk, sebuah jembatan besar yang cukup dua mobil dari batu terbentang. Di sisi kanan terdapat papan yang menjelaskan sejarah jembatan tersebut.  Athpula atau Khaipur Ka Pul, jembatan yang berusia 400 tahun ini dibangun oleh  Nawab Bahadur  pada masa pemerintahan Akbar (1556-1605). Dulu, di bawah jembatan ini mengalir air dari sungai Yamuna. Jembatan ini pun menjadi salah satu bagian penting dari sistem pengairan di Delhi pada masa itu.

Saat berjalan di jembatan, dari kejauhan saya melihat seekor anjing herder besar. Ah sial, umpat saya. Terus terang, waktu kecil saya punya pengalaman buruk  dengan anjing herder tetangga. Saya mulai merapat ke dinding jembatan, berusaha menghindar. Syukur, herder yang ini tidak tertarik dengan saya.

Saya berhenti di tengah jembatan sepanjang 80 meter itu. Dari sini saya melihat  sebuah danau buatan dengan air mancur yang muncrat setinggi gedung empat lantai. Di tepian danau, belasan angsa terlihat asyik menikmati makan pagi.

Di atas jembatan itu saya juga bisa menonton dan mendengar suara ribuan burung yang bebas berkeliaran di taman ini, mulai dari elang, merpati, kakaktua, parkit dan hill myna, burung berparuh kuning dengan garis putih di sayap, mirip burung beo hanya ukurannya lebih mini.

Lhodi memang surga bagi burung-burung di New Delhi. Lihat saja, betapa sesaknya pohon di taman ini. Dalam literatur yang saya baca, di taman seluas 30 hektare ini tertanam 5400 pohon yang terdiri dari157 jenis pohon. Di antaranya: Chir, Deodar, Neem, Bambu, Palem dan Eucalypytus.

Saya sangat menikmati pemandangan elok ini. Saya teringat promosi Riyan, teman saya tadi. “Memang indah,” kata saya dalam hati. Bahkan, Nehru Park, taman yang bersih, terawat dan selalu ramai oleh pengunjung yang terletak di kawasan Chanakyapuri, kalah cantik dengan Lodhi.

Lhodi Garden terletak di Jalan Lhodi, diapit oleh Safdarjung Tomb dan Khan Market. Sebelum berubah menjadi taman, area ini merupakan dua desa yang mengililingi bangunan-bangunan abad 15 pada masa Dinasti Sayid dan Lodi, di antaranya Shees Gumbad dan Bara Gumbad.

Pada 1936 kedua desa tersebut direlokasi dan area ini dijadikan taman sekaligus situs bersejarah. Awalnya, taman ini disebut Lady Willingdon Park. Pada 1947, setelah India merdeka dari penjajahan Inggris, taman ini berganti nama menjadi Lodhi Garden. Tahun 1968, taman ini ditata ulang oleh JA Stein dan Garett Eckbo dan dipercantik dengan sebuah taman bonsai di dalamnya.

Dua puluh menit saya terpaku di atas jembatan, karena penasaran ingin melihat Tomb yang dikatakan Riyan, saya pun kembali berjalan mengikuti jalur yang terbuat dari batu, rapih dan lebar. Sepanjang jalan, saya melihat puluhan tupai  berlarian dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Tak jarang, saya pun berpapasan dengan pengunjung yang asyik jogging.

Setelah berjalan santai 5 menit, saya akhirnya sampai di jantung taman ini. Wow, di antara hamparan rumput hijau yang luas dikelilingi bunga dan rimbunnya pepohonan, saya melihat sebuah bangunan berkubah. Karena tak sabar ingin melihat dari dekat, saya pun mempercepat langkah.

Ya, inilah  Sheesh Gumbad dan Bara Gumbad. Sheesh Gumbad yang memilki arti kubah kaca kaya akan ornamen batu berwarna biru di sekeliling kubahnya. Di dalamnya terdapat sejumlah makam yang diperkirakan orang-orang berpengaruh pada masa Sikandar Lodi.

Sedangkan Bara Gumbad berarti Kubah Besar. Menurut sejumlah pakar dan peneliti bangunan ini tidak bisa dinamakan <i>Tomb</i> karena di dalamnya tidak ada kuburan.  Uniknya, bangunan ini berdampingan dengan sebuah masjid.

Saat asyik memandangi Bara Gumbad, seorang pengunjung menyapa saya. “Kalau mau naik, ke belakang saja, ada tangga di sana,” kata pengunjung yang belakangan saya ketahui bernama Dhawis.

Saya mengikuti sarannya dengan memutar ke belakang. Wah, ternyata jauh lebih cantik dari sisi muka. Saya pun naik tangga setinggi hampir dua meter. Saya terpesona dengan bangunan masjid yang ada di samping Bara Gumbad.

Meski berukuran kecil, masjid yang dibangun tahun 1494 pada masa pemerintahan Sikandar Lodi ini sungguh cantik. Masjid tersebut terbuat dari batu merah ini memilki tiga kubah. Di dinding bangunan dalam penuh dengan pahatan kaligrafi ayat-ayat Al Quran.

Bangunan-bangunan ini menjadi cikal bakal ciri khas bangunan maupun masjid pada masa Dinasti Mughal, kerajaan yang membangun Taj Mahal. Sayangnya, masjid tersebut kini hanya menjadi situs bersejarah.

Puas menikmati kaligrafi masjid, saya kembali turun dan bertemu kembali dengan Dhawis yang lagi asyik duduk di sebuah kursi. Kami berbincang. Kakek berusia sekitar 70 tahun itu bercerita bahwa saban hari ia datang ke Lhodi Garden. “Untuk menghirup udara segar,” ujar warga New Delhi ini.

Setelah saling berbagi cerita, saya melanjutkan kembali “penjelajahan” taman Lodhi ini. Di arah belakang dari tempat saya masuk, saya menemukan sebuah Tomb lagi, kali ini lebih besar. Dari catatan penjelasan yang tertera ini adalah makam Muhammad Shash Sayid (1450), penguasa Delhi 1434-44. Makam dan bangunan tertua di taman ini dibangun oleh Alauddin Alam Shah, anak Muhammad Shash.

Bangunan ini berbeda dengan dua bangunan yang saya temui, lebih megah, berpilar banyak dan Yang paling membedakan, ada sebuah kubah besar yang dikelilingi kubah-kubah kecil. Konon kubah besar diibaratkan matahari sedangkan kubah kecil adalah planet-planet yang mengililinginya. Ciri ini juga bisa dilihat di Taj Mahal.

Hari semakin siang, matahari kian terik. Saya pun berjalan ke arah tempat saya masuk. Namun kali ini saya sedikit memutar, karena masih ada satu Tomb lagi yang belum saya lihat., yakni makam Sikandar Lodi yang berkuasa selama 28 tahun, sejak 1489 hingga 1517.

Sikandar Lodi Tomb dikelilingi oleh tembok yang tinggi dari bata merah, mirip sebuah benteng. Dari struktur bangunan dan pilar-pilarnya mirip dengan makam Muhammad Shash. Sangat cantik dan terawat.

Tak terasa tiga jam saya berada di Lodhi Garden ini.  Pantas saja, kaki saya sudah terasa pegal, perut pun keroncongan. Sembari berjalan ke pintu keluar, saya teringat kampung halaman saya: Jakarta. Ah, seandainya di  Jakarta ada taman yang nyaman seperti ini.

Kia Ora, Rotorua…

Akhir pekan yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Setelah mengikuti Media Exchange Program selama lima hari di Auckland, New Zealand, rasanya saya perlu melepas penat sejenak, sebelum kembali menjalani padatnya acara yang diselenggarakan pemerintah New Zealand pada 19-28 Juni lalu.

“Kita akan ke Rotorua dengan pesawat jam 13.30,” kata Staf Departemen Luar Negeri Neuw Zealand Paki Ormsby yang menjadi “guide”. Pemerintah New Zealand juga mengajak Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Mardani dan Sekretaris Majelis Pendidikan Muhamadiyah Abdul Mu’ti untuk mengikuti Youth Muslim Leaders Exchange Program.

Kami berangkat berempat. Selama perjalanan menggunakan taksi, Paki sempat memberi penjelasan sekilas tentang Rotorua, sebuah kota kecil berpenduduk 68 ribu jiwa. Di sana terdapat pusat kebudayaan suku Maori (penduduk Asli New Zealand), sumber panas bumi, hewan kiwi dan salah satu atraksi paling nyohor: peternakan dan pertunjukan biri-biri.

 

Mendengar penjelasan Paki, saya makin tak sabar menghabiskan akhir pekan di sana. Dalam perjalanan taksi kami mampir ke Museum Nasional. “Masih ada waktu, kita lihat-lihat sebentar,” kata Paki. Setelah satu jam berada di sana, dengan taksi yang berbeda, kami meluncur ke bandar udara internasional Auckland.

Tepat jam 13.00 kami tiba di bandara, kami pun bergegas ke counter check-in. Ah, sial, kami salah jadwal, pesawat Air New Zealand yang seharusnya mengangkut kami berangkat pukul 13.00. “Masih ada pesawat berikutnya, jam 18.50,” kata petugas counter check-in dengan sentum ramah. Continue reading

Bemo 1962

Pernah naek bemo? paling gak waktu kecil pernah lah.. gak pernah juga? Coba deh sekali-kali naek kendaraan beroda tiga itu. Mumpung di jakarta masih ada. Soalnya dalam beberapa hari terakhir ini gue lumayan sering naek bemo (dua kali sih.. hehehe). Trayeknya stasiun kereta manggarai-proklamasi (dpn ktr percis, pake c bukan s).

Soalnya yang gue inget.. terakhir naek bemo itu berbelas-belas tahun yang lalu. Mungkin pas tk.. jaman itu (tahunnya mending gak usah disebutin.. ketahuan nanti kalo gue masih belia..huahaha) bemo masih lewat di depan pasar burung barito. jalurnya kalo gak salah mayestik-blok A. bener gak?

Duluuu, rasanya bemo itu lumayan luasss, tapi sekarang.. gak duduk di depan, gak duduk di belakang, pasti nyenggol penumpang yang laen. kebayang kalo salah satu temen gue yang bertinggi 188,888 cm naek dan temen gue yang laen yang beratnya 120,55 kg naek bersamaan, ditanggung bakal ditimpukin penumpang laen. Mending cuma ditimpuk, kalo sampe bemonya rontok. Siapa yang mau tanggung jawab.. hehehe.

oh, ya.. bemo yang gue naekin tadi pagi ternyata buatan 1962. Meski sudah uzur, bemo berwarna merah dihiasi coklat karat itu masih sanggup bolak-balik sampe 20 rit. Dengan jumlah penumpang 7+1 (supirnya) juga masih kuat narik di tanjakan. Hebat gak tuh?

Tapi kenapa pemda DKI gak melestarikan bemo ya? meski di beberapa lokasi masih beroperasi (grogol, kota, salemba), bemo dianggap sudah tidak layak sebagai kendaraan umum. Padahal, kalo mau ditilik-tilik… bemo itu the real city “car” super kecil dan super efisien, lihat aja bodinya, lebih kecil dari bajaj tapi kapasitasnya jauh lebih besar dari bajaj. Iritnya juga gak ketulung, wong pake minyak tanah aja masih jalan.

Belum lagi bentuknya yang unik… coba kalo rapih, bersih, terawat.. pasti banyak yang milih naek bemo. Apalagi kaum adam yang mata keranjang (kenapa gak mata ranjang aja yak.. hehe) pasti doyan.. maklum, kan dempet2an. hayahhh..

jadi intinya.. cobalah melestarikan bemo2 itu.. dengan sekali-sekali naek bemo…. cukup dengan uang Rp 2000, lo bisa ngerasain sensasi si bemo.

tulisan ini diketik 01 Mei 2006 (dipindahin dari blog yang lama.. hehe)

Aceh, Setahun yang Lalu

“Aceh memang indah,” gumam saya ketika berkunjung ke Banda Aceh untuk meliput pelaksanaan darurat sipil, pada awal Desember tahun 2004. Lihat saja, pasir putih dan laut yang jernih mengelilinginya, bukit-bukit

kecil menghiasi kontur tanahnya, awan putih berserakan di antara langitnya yang biru, kedai-kedai kopi tarik bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Tak ada mal yang megah, tak ada bangunan pencakar langit yang berjejalan, tak ada metro mini yang mengepulkan asap hitam seperti di Jakarta.

Banda Aceh bukan hanya memikat secara fisik, tapi juga dari masyarakat, tradisi dan tentu saja dari sisi kulinernya. Malam hari setelah seharian lelah meliput, saya menyempatkan mencicip mie Aceh di sebuah kedai yang tersohor dengan panganan itu. Mie Aceh di kedai yang sesak pengunjung itu memang dahsyat, apalagi mie kepitingnya.. mmhhh. Dalam hati saya pun berikrar untuk datang lagi suatu hari nanti. Mungkin.

Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Banda, tapi tidak singgah di Rex, sebuah kawasan pusat jajanan yang baru buka di sore hari dan tutup setelah hari berganti. Usai menyantap mie Aceh, saya pun beranjak kesana bersama beberapa orang teman. Sembari menyantap durian diselingi menyeruput kopi Aceh, saya menikmati suasana kota Banda Aceh di malam hari.

Banda Aceh kala itu boleh dibilang sudah mulai pulih dan relatif aman setelah status darurat militer diubah menjadi darurat sipil. “Kalau dulu (saat diberlakukan darurat militer) ada jam malam, belum jam 9 kota sudah sunyi, tak ada yang berani keluar. Sekarang sudah mulai normal,” ujar Ibrahim, penjual nasi kare saat itu.

Malam semakin tua, Rex pun semakin ramai. Kendaraan bermotor riuh hilir mudik. Sebagian dari mereka pun singgah untuk memborong durian, membeli martabak Aceh, menikmati sepiring nasi kare atau sekadar nongkrong. Semuanya menikmati malam, nyaris tak ada wajah menyiratkan ketakutan. Benak saya pun merekam sebuah Aceh yang indah, Aceh yang damai.

***

Semua kenangan indah saya tentang Banda Aceh dalam sekejap sirna, saat kabar yang mengejutkan itu datang: Aceh dilanda Tsunami pada 26 Desember 2004. Persis setelah enam belas hari saya meninggalkan Banda Aceh.

Gempa mahadahsyat berkuatan 9,3 skala richter disusul gelombang air raksasa menyerang dari seluruh penjuru mata angin, Aceh pun luluh lantak dalam waktu singkat. Rumah-rumah hancur berantakan, kapal-kapal nelayan berloncatan menuju daratan, mobil dan motor terseret-seret tanpa kendali, ribuan orang pun tak kuasa melawan, mereka semua meregang nyawa. Mati.

***

Setelah mengalami penundaan nyaris 24 jam dengan penerbangan yang begitu memompa adrenalin, pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi akhirnya mendarat di lapangan terbang Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, pada awal bulan Januari silam. Beberapa detik sebelum melangkah keluar dari pintu pesawat saya sempat melirik jam tangan, pukul 03:17 wib.

Langit masih gelap. Pekat. Tak ada bintang disana. Angin mengaum kencang, menyambut kedatangan saya. Satu persatu saya menuruni anak tangga. Angin kembali mengaum. Udara dingin pun menggigit kulit. Sedingin wajah-wajah mereka yang turun dari pesawat.
Meski petaka tsunami telah satu minggu berlalu, suasana mencekam dan duka begitu terasa.

Kesibukan luar biasa terlihat di bandara Sultan Iskandar Muda, ratusan kotak bantuan yang berisi makanan dan obat-obatan menggunung. Sebagian baru saja datang dan sedang diturunkan dari beberapa pesawat milik negara-negara sahabat.

Sementara di dalam bandara, penuh dengan orang. Para korban tsunami, pekerja sosial, relawan, jurnalis. Ada yang baru saja tiba, ada yang sudah berhari-hari menunggu pesawat, ada yang berharap bertemu sanak saudara disana, ada pula yang tak tahu harus kemana hingga memilih tinggal di bandara.

bersambung….

tulisan ini dibuat pada 26 Desember 2005